VAKSINASI PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI

(VAKSIN PPI)

 

TUBERKULOSIS  

Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis. Tuberkulosis paling sering mengenai paru-paru, tetapi dapat juga mengenai organ-organ lainnya seperti selaput otak, tulang, kelenjar superfisialis dan lain-lain. Infeksi Mycobacterium tuberculosis tidak selalu menjadi sakit tuberculosis aktif. Beberapa minggu (2 – 12 minggu) setelah infeksi dengan Mycobacterium tuberculosis terjadi respons immunitas seluler yang dapat ditunjukkan dengan uji tuberkullin.

 

VAKSIN BCG (Bacille Calmette – Guerin)

Bacille Calmette – Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Myco bacterium bovis yang dibiakkan berulang selama 1 – 3 tahun sehingga didapat basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai immunogenitas. Vaksin BCG menimbulkan sensitifitas terhadap tuberkulin. Masih banyak perbedaan pendapat mengenai timbulnya sensitifitas terhadap tuberkulin yang terjadi kaitannya dengan timbulnya imunitas.

Vaksin yang dipakai adalah vaksin BCG Biofarma Bandung. Vaksin ini berisi suspensi Mycobacterium bovis hidup yang sudah dilemahkan. Vaksinasi BCG tidak mencegah infeksi tuberculosis tetapi mengurangi resiko tuberkulosis berat seperti meningitis tuberkulosa dan tuberkulosis millier. Efek proteksi timbul 8 – 12 minggu setelah penyuntikan. Efek proteksi bervariasi antara 0 – 80 %. Hal ini mungkin karena vaksin yang dipakai, lingkungan dengan Mycobacterium atipik atau faktor penjamu (umur, keadaan gizi dan lain-lain).

Vaksin BCG diberikan secara intradermal/intrakutan 0,10 ml untuk anak dan 0,05 ml untuk bayi baru lahir. BCG sebaiknya diberikan pada deltoid kanan (lengan kanan atas), sehingga bila trejadi limfadenitis (aksila) lebih mudah terdeteksi. Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, harus disimpan pada suhu 2 – 80 C, tidak boleh beku. Vaksin yang telah diencerkan harus dibuang dalam 8 jam. BCG diberikan pada umur < 2 bulan. BCG sebaiknya diberikan pada anak dengan uji Mantoux (tuberkulin) negatif.

 

KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI)

Penyuntikan BCG secara intradermal yang benar akan menimbulkan ulkus lokal yang superfisial 3 minggu setelah penyuntikan. Ulkus yang biasanya tertutup krusta akan sembuh dalam 2 – 3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4 – 8 mm. Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus yang timbul lebih besar, namun apabila penyuntikan terlalu dalam maka parut yang terjadi tertarik ke dalam(retracted).

 

LIMFADENITIS

Limfadenitis supuratif di aksila atau di leher kadang-kadang dijumpai. Hal ini tergantung pada umur anak, dosis dan galur (strain) yang dipakai. Limfadenitis akan sembuh sendiri, jadi tidak perlu diobati. Apabila limfadenitis melekat pada kulit atau timbul fistula maka dapat dibersihkan (dilakukan drainage) dan diberikan obat anti tuberkulosis oral. Pemberian obat anti tuberkulosis sistemik tidak efektif.

 

BCG-itis diseminasi

BCG-itis desiminasi jarang terjadi, biasanya berhubungan dengan imunodefisiensi berat. Komplikasi lainnya adalah eritema nodosum, iritis, lupus vulgaris dan osteomielitis. Komplikasi ini harus diobati dengan kombinasi obat anti tuberkulosis.

 

KONTRA INDIKASI BCG

         Reaksi uji tuberkulin > 5 mm

         Sedang menderita infeksi HIV atau dengan resiko tinggi HIV, imunokompromais akibat pengobatan kortokosteroid, obat imuno-supresif, mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe.

         Anak menderita gizi buruk.

         Sedang menderita demam tinggi.

         Menderita infeksi kulit yang luas.

         Pernah sakit tuberkulosis.

         Kehamilan.

 

 REKOMENDASI

         BCG diberikan pada bayi < 2 bula.

         Pada bayi yang kontak erat dengan penderita TB dengan BTA (+3) sebaiknya diberikan INH profilaksis dulu, kalau kontak sudah tenang dapat diberi BCG.

         BCG jangan diberikan pada bayi atau anak dengan imunodefisiensi, misalnya HIV, gizi buruk dan lain-lain.

 

HEPATITIS B

Hepatitis B merupakan penyakit endemik dihampir seluruh bagian dunia. Pada anak sering menimbulkan gejala yang minimal bahkan sering terjasi sub-klinik, namun sering menyebabkan hepatitis kronik, yang dalam kurun waktu 10 – 20 tahun dapat berkembang menjadi sirosis ataupun hepatoma; sedangkan pada orang dewasa lebih sering menjadi hepatitis akut. Hepatitis B juga dapat berkembang menjadi bentuk fulminan dengan angka kematian yang tinggi.

Penularan pada umumnya terjadi melalui :

         Inokulasi parenteral, melalui alat – alat kedokteran, darah ataupun jaringan.

         Hubungan seksual.

         Dari ibu kepada bayinya, pada umumnya terjadi sekitar proses persalinan, dapat pula melalui transplasental, ataupun pada masa post natal dengan melalui ASI.

         Penularan horisontal antar anak walaupun jarang.

 

PENCEGAHAN

Pencegahan dilakukan dengan mencegah kontak dengan virus, baik terhadap pengidap, darah donor, organ tubuh transplantasi, maupun alat-alat kedokteran. Dapat pula dengan pemberian kekebalan melalui imunisasi baik imunisasi pasif maupun aktif.

 

IMUNISASI PASIF

Imunisasi pasif dilakukan dengan pemberian imunoglobulin. Diberikan baik sebelum terjadi paparan (preexposure) maupun setelah terjadinya paparan (postexposure). Dapat dilakukan dengan memberikan IG/ISG (Immune Serum Globulin) atau HBIG (Hepatitis B Immune Globulin).

Indikasi utama pemberian imunisasi pasif adalah :

a.       Paparan dengan darah yang ternyata mengandung HbsAg baik melalui kulit ataupun mukosa.

b.      Paparan seksual dengan pengidap HbsAg (+).

c.       Paparan perinatal, ibu HbsAg (+). Imunisasi pasif harus diberikan sebelum 48 jam.

Dosis :

Pada kecelakaan jarum suntik: 0.06 ml/kg, dosis maksimal 5 ml, intramuskular, harus diberikan dalam jangka waktu 24 jam, diulangi 1 bulan kemudian.

         Paparan seksual : dosis tunggal 0,06 ml/kg, intramuskuler, harus diberikan dalam jangka waktu 2 minggu, dengan dosis maksimal 5 ml.

         Paparan perinatal : 0,5 ml intramuskular.

 

IMUNISASI AKTIF

Imunisasi aktif dapat diberikan dengan pemberian partikel HbsAg yang tidak infeksius. Dikenal dengan 3 jenis vaksin Hepatitis B yaitu :

         Vaksin yang berasal dari plasma.

         Vaksin yang dibuat dengan tehnik rekombinan (rekayasa genetik)

         Vaksin polipeptida.

Penyuntikan diberikan intramuskular, dilakukan didaerah deltoid atau paha antrolateral (jangan dilakukan pada daerah bokong)

JADWAL PEMBERIAN

         Vaksinasi awal atau primer diberikan 3 kali. Jarak antara suntikan I dan II 1 – 2 bulan sedangkan suntikan III diberikan 6 bulan dari suntikan I.

         Pemberian booster 5 tahun kemudian masih belum ada kesepakatan.

         Pemeriksaan anti-HbsAg pasca imunisasi dianjurkan setelah 3 bulan dari suntikan terakhir.

         Skrining pra vaksinasi hanya dianjurkan pada pemberian imunisasi secara individu (praktek swasta perorangan), sedangkan pada suntikan masal tidak dianjurkan.

 

REAKSI KIPI

Efek samping yang terjadi pada umumnya ringan, berupa nyeri, bengkak, panas, mual, nyeri sendi maupun otot. Walaupun demikian pernah pula dilaporkan adanya anafilaksis, sindrom Guillain-Barre, walaupun tidak jelas terbukti hubungannya dengan imunisasi hepatitis B.

 

KONTRA INDIKASI

Sampai saat ini belum dipastikan adanya kontra indikasi absolut terhadap pemberian imunisasi Hepatitis B, terkecuali pada ibu hamil.

 

HIPO dan NONRESPONDER

Tanggap kebal yang rendah pasca imunisasi dapat disebabkan :

         Usia tua

         Pemberian vaksinasi di daerah bokong

         Pada anak yang gemuk

         Pasien hemodialisas/transplantasi

         Pasien yang mendapat obat-obatan imunosupresif

         Pasien leukemia dan penyakit keganasan lain

         Pasien DM insulin dependent

         Infeksi HIV

         Peminum alkohol

Pada keadaan – keadaan tersebut diatas, imunisasi perlu diulangi dengan meningkatkan dosis (dua kali), setelah melakukan koreksi seperlunya terhadap penyakit dasar.

 

DIFTERI, PERTUSIS dan TETANUS

 

DIFTERI

Difteria adalah suatu penyakit akut yang bersifat toxin-mediated disease dan disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Nama kuman ini berasal dari bahasa Yunani diphtera yang berarti leather hide. Penyakit ini disebut pertamakali oleh Hyppocrates pada abad ke-5 SM dan epidemi pertama dikenal pada abad ke-6 oleh Aetius. Bakteri ini ditemukan pertama kali pada membran penderita difteria tahun 1883 oleh Klebs. Antitoxin ditemukan pertama kali pada akhir abad ke-19 sedang toxoid dibuat sekitar tahun 1920.

Diphteriae adalah suatu basil Gram positif. Produksi toksin terjadi hanya bila kuman tersebut mengalami lisogenisasi oleh bakteriofag yang mengandung informasi genetik toksin. Hanya galur toksigenik yang dapat menyebabkan penyakit berat. Ditemukan 3 galur bakteri yaitu gravis, intermedius, dan mitis dan semuanya dapat memproduksi toksin, namun jenis gravis yang paling virulen. Semua kuman C.diphteriae yang ditemukan dalam suatu biakan harus dinyatakan toksigenitasnya dengan menentukan galurnya.

Seseorang anak dapat terinfeksi basil difteria pada nasofaringnya dan kuman tersebut kemudian akan memproduksi toksin yang menghambat sintesis protein seluler dan menyebabkan destruksi jaringan setempat dan terjadilah suatu selaput/membran yang dapat menyumbat jalan nafas. Toksin yang terbentuk di membran tersebut kemudian diabsorbsi kedalam aliran darah dan dibawa keseluruh tubuh. Penyebaran toksin ini berakibat komplikasi berupa miokarditis dan neuritis, serta trombositopenia dan proteinuria.

Anti toksin untuk difteria yang dibuat dari serum kuda pertama kali dibuat di Amerika Serikat pada tahun 1891. Pemberian anti toksin ini dimaksudkan untuk mengikat toksin yang beredar dalam darah, dan tidak dapat menetralisasi toksin yang sudah terikat pada suatu jaringan tertentu. Penderita dengan dugaan difteria harus segera mendapatkan pengobatan dengan anti toksin dan antibiotik dengan dosis yang tepat dan dirawat dengan tehnik isolasi ketat. Terapi penunjang untuk membantu pernafasan dan pembebasan jalan perlu diberikan segera bila diperlukan.

Kekuatan toksoid difteri yang terdapat dalam vaksin DPT saat ini berkisar antara 6,7 – 25 Lf dalam dosis 0,5 ml. Untuk imunisasi rutin pada anak, dianjurkan pemberian 5 dosis pada usia 2, 4, 6, 15 – 18 bulan dan saat masuk sekolah. Dosis ke-4 harus diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah dosis ke-3. Kombinasi toksoid difteria dan tetanus (DT) yang mengandung    10 – 12 Lf dapat diberikan pada anak yang memiliki kontraindikasi terhadap pemberian vaksin pertusis. Vaksin DPT disimpan pada suhu 2- 80 C dan cara pemberiannya melalui suntikan intramuskuler/subkutan.

 

KIPI

KIPI toksoid difteri secara khusus sulit dibuktikan karena selama ini pemberiannya selalu digabung dengan toksoid tetanus dan atau tanpa vaksin pertusis. Beberapa laporan menyebutkan bahwa reaksi lokal akibat pemberian vaksid DT sering ditemukan lebih banyak daripada pemberian tetanus toksoid saja. Namun kejadian tersebut sangat ringan dan belum pernah dilaporkan adanya kejadian ikutan berat. Untuk menekan kejadian ikutan akibat hiper reaktifitas terhadap toksoid difteri, telah dilakukan beberapa upaya untuk memperbaiki kualitas toksoid tersebut yaitu dengan :

1.      Meningkatkan kemurnian toksoid dengan menghilangkan protein yang tidak perlu.

2.      Menyerapkan toksoid ke dalam garam aluminium dan

3.      Mengurangi jumlah toksoid per inokulasi menjadi 1 –2 Lf yang dianggap cukup efektif untuk mendapatkan imunitas.

Efek samping yang sering ditemukan pada imunisasi DPT :

1.      Panas

Kebanyakan anak menderita panas pada sore hari setelah mendapat vaksinasi DPT, tetapi panas ini akan sembuh dalam 1 – 2 hari. Bila panas yang timbul lebih dari 1 hari sesudah pemberian DPT, bukanlah disebabkan oleh vaksin DPT, mungkin ada infeksi lain yang perlu diteliti lebih lanjut.

Berikan 1 tablet antipiretik kepada ibunya dan katakan bahwa bila anak panas tinggi lebih dari 390 C maka anak perlu diberi ¼ tablet yang dihancurkan dengan sedikit air. Dianjurkan agar anak jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan cara sibin.

2.      Rasa sakit di daerah suntikan

Sebagian anak merasakan nyeri, sakit, kemerahan dan bengkak ditempat suntikan. Hal ini perlu diberitahukan kepada ibu sesudah vaksinasi, serta menyakinkan ibu bahwa keadaan itu tidak berbahaya dan tidak perlu pengobatan.

3.      Peradangan

Bila pembengkakan sakit terjadi seminggu atau lebih sesudah vaksinasi maka hal ini mungkin disebabkan peradangan.

Hal ini mungkin akibat dari :

a.    Jarum suntik tidak steril oleh karena jarum tersentuh tangan, jarum diletakkan diatas tempat yang tidak steril, sterilisasi kurang lama dan terkontaminsi oleh kuman.

b.    Penyuntikan kurang dalam

4.      Kejang – kejang

Reaksi yang jarang terjadi, tetapi perlu diketahui petugas. Reaksi ini disebabkan oleh komponen pertusis dari DPT. Karena cukup berat maka anak yang pernah mendapat reaksi ini tidak boleh diberi vaksin DPT lagi dan sebagai gantinya diberi DT saja.

 

PERTUSIS

Pertusis atau batuk rejan/batuk seratus hari adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Borditella pertusis. Sebelum ditemukan vaksin pertusis, penyakit ini merupakan penyakit tersering yang menyerang anak-anak dan merupakan penyebab utama kematian.

Borditella pertusis adalah batang yang bersifat gram negatif dan membutuhkan media khusus untuk isolasinya. Kuman ini menghasilkan beberapa antigen antara lain toksin pertusis, filamen hemagglutinin, aglutinogen fimbriae, adenil siklase, endotoksin dan sitotoksin trakea. Produk-produk ini berperan dalam terjadinya gejala penyakit pertusis dan kekebalan terhadap salah satu atau lebih komponen ini akan menyebabkan serangan penyakit yang ringan. Pertusis merupakan penyakit yang bersifat toxin mediated dan toksin yang dihasilkan kuman (melekat pada bulu getar saluran nafas atas) akan melumpuhkan bulu getar tersebut hingga menyebabkan gangguan aliran sekret saluran nafas dan berpotensi menyebabkan pneumonia. Gejala utama pertusis timbul saat terjadinya penumpukan lendir dalam saluran nafas akibat kegagalan aliran oleh bulu getar yang lumpuh yang berakibat terjadinya batuk paroksismal tanpa inspirasi yang diakhiri dengan bunyi whoop. Pada serangan seperti ini, pasien biasanya akan muntah dan sianosis dan menjadi sangat lemas dan tegang. Keadaan ini dapat berlanjut antara 1 sampai 10 minggu. Bayi dibawah 6 bulan juga dapat menderita batuk seperti ini namun biasanya tanpa disertai suara whoop.

Bayi dan anak prasekolah mempunyai resiko terbesar untuk terkena penyakit ini termasuk komplikasinya. Komplikasi utama yang sering ditemukan adalah pneumonia bakterial, gangguan neurologis berupa kejang dan ensefalopati akibat hipoksia. Komplikasi ringan yang sering ditemukan adalah otitis media, anoreksia, dehidrasi dan akibat tekanan intra abdominal yang meningkat saat batuk antara lain epistaksis, hernia, perdarahan konjungtiva, pneumotoraks dan lainnya.

Pengobatan pertusis secara kausal dapat dilakukan dengan antibiotik dan pengobatan suportif terhadap gejala batuk yang berat.

 

VAKSIN PERTUSIS

Antibodi terhadap toksin pertusis dan hemaglutinin telah dapat ditemukan dalam serum neonatus dalam konsentrasi yang sama dengan ibunya dan akan menghilang dalam 4 bulan. Namun demikian antibosi ini ternyata tidak memberikan proteksi secara klinis. Pemberian imunisasi pasif berupa imunoglobulin pertusis masih kontroversial. IgG terhadap pertusis pernah dibuat namun tidak efektif dan kemudian produksinya dihentikan.

Vaksin pertusis whole cell adalah vaksin yang merupakan suspensi kuman B.pertusis mati. Umumnya vaksin pertusis diberikan dengan kombinasi bersama toksoid tetanus dan difteri. Campuran ini diabsorbsikan ke dalam garam alumunium. Tapi pembuatan vaksin pertusis dengan menggunakan fraksi sel memberikan reaksi lokal dan demam yang lebih ringan dibanding dengan whole cell.

 

KIPI

KIPI pertusis diantaranya adalah kemerahan, bengkak dan nyeri pada lokasi injeksi. Terkadang juga ditemukan demam ringan dan 1% dapat menjadi hiperpireksia. Anak menjadi sering gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca suntikan, kadang kejang ditemukan sehubungan dengan demam yang terjadi. Kejadian ikutan yang paling serius adalah terjadinya ensefalopati akut atau reaksi anafilaksis.

 

KONTRA INDIKASI

Kontra indikasi mutlak terhadap pemberian vaksin pertusis baik whole cell maupun aseluler yaitu :

1.      Riwayat anafilaksis

2.      Ensefalopati sesudah pemberian vaksin pertusis sebelumnya.

Keadaan lain dapat dinyatakan sebagai perhatian khusus, sebelum pemberian vaksin pertusis berikutnya bila pada pemberian pertama dijumpai, misalkan riwayat hiperpireksia, keadaan hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, anak menangis terus menerus selama 3 jam dan riwayat kejang dalam 3 hari sesudahnya.

Riwayat kejang dalam keluarga dan kejang yang tidak berhubungan dengan pemberian vaksin sebelumnya, KIPI atau alergi terhadap vaksin bukanlah suatu indikasi kontra terhadap pemberian vaksin DPT. Walaupun demikian keputusan untuk pemberian vaksi pertusis harus dipertimbangkan secara individual dengan memperhitungkan keuntungan dan resiko pemberiannya.

 

TETANUS

Tetanus adalah suatu penyakit akut yang sering bersifat fatal yang disebabkan oleh eksotoksin produksi kuman Clostridium tetani. Kuman ini berbentuk batang dan bersifat anaerobik, gram positif yang mampu menghasilkan spora dengan bentuk drumstick. Kuman ini sensitif terhadap suhu panas dan tidak bisa hidup dalam lingkungan ber-oksigen. Sebaliknya spora tetanus sangat tahan panas dan kebal terhadap antiseptik. Spora ini dapat tetap hidup dalam autoclaf bersuhi 1210 C selama 10 – 15 menit. Kuman ini banyak tersebar kotoran dan debu jalanan, dalam usus dan tinja kuda, domba, anjing, kucing, tikus dan lainnya. Kuman ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka dan dalam suasana anaerob, kemudian produksi toksin ( tetanospasmin) terjadi dan disebarkan melalui darah dan limfa. Toksin ini kemudian akan menempel pada reseptor di sistem syaraf. Gejala utama penyakit ini timbul akibat toksin tetanus mempengaruhi pelepasan neurotrasmitter, yang berakibat penghambatan impuls inhibisi. Akibatnya terjadi kontraksi serta spastisitas otot yang terkontrol, kejang-kejang dan gangguan sistem syaraf otonom.

Tetanus selain dapat ditemukan pada anak-anak, juga dijumpai kasus tetanus neonatorum yang cukup fatal. Komplikasi tetanus yang sering terjadi antara lain laringospasme, infeksi nosokomial dan pneumonia ortostatik. Pada anak yang lebih besar sering terjadi hiperpireksia yang juga merupakan tanda tetanus berat.perawatan luka merupakan pencegahan utama terjadinya tetanus disamping imunisasi terhadap tetanus baik aktif maupun pasif.

 

TOKSOID TETANUS

Tetatus toksoid yang diperlukan untuk imunisasi adalah sebesar 40 IU dalam setiap dosis tunggal dan 60 IU bila bersama dengan toksoid difteri dan vaksin pertusis. Berbagai kemasan dapat ditemui untuk toksoid ini, baik sebagai preparat tunggal (TT) atau kombinasi dengan toksoid difteri atau pertusis (dT, DT, DPT, DTaP).

Sebagaimana toksoid lainnya, pemberian toksoid tetanus memerlukan pemberian bertahap untuk menimbulkan dan mempertahankan imunitas. Tidak perlu pengulangan dosis bila jadwal pemberian ternyata terlambat. Ibu yang mendapat toksoid tetanus 2 atau 3 dosis ternyata memberikan proteksi yang baik terhadap bayi baru lahir terhadap tetanus neonatorum. Kadar rata-rata antitoksin 0,01 AU/ml pada ibu cukup untuk memberikan proteksi terhadap bayi.

Beratnya KIPI yang terutama terdiri atas reaksi lokal, sangat dipengaruhi oleh dosis, pelarut, cara penyuntikan dan adanya antigen lain dalam kombinasi vaksin tersebut.

Untuk vaksin TT  dosis 0,5 ml dan disuntikan intramuskuler/subkutan di m.deltoideus, paha dan bokong.

 

POLIOMIELITIS

 

Kata polio (abu-abu) dan myelon (sumsum), berasal dari bahasa latin yang berarti medulla spinalis. Penyakit ini disebabkan oleh virus poliomielitis pada medula spinalis yang secara klasik menimbulkan kelumpuhan.

Virus polio termasuk dalam kelompok (sub-group) entero virus, famili Picomaviridae. Dikenal 3 macam serotipe virus polio yaitu P1, P2 dan P3. Virus polio ini menjadi tidak aktif apabila terkena panas, formal dehid dan sinar ultraviolet.

Reservoir virus polio liar hanya pada manusia, yang sering ditularkan oleh pasien infeksi polio yang tanpa gejala. Namun tidak ada pembawa kuman dengan status karier asimtomatis kecuali pada orang yang menderita defisien sistem imun.

Virus polio menyebar dari orang satu ke orang lain melalui jalur oro-fecal pada beberapa kasus dapat berlangsung secara oral-oral. Infeksi virus mencapai puncak pada musim panas, sedangkan pada daerah tropis tidak ada bentuk musiman penyebaran infeksi. Virus polio sangat menular, pada kontak antar rumah tangga (yang belum imunisasi) derajat serokonversinya lebih dari 90%. Kasus-kasus polio sangat infeksius dari 7 sampai 10 hari sebelum dan setelah timbulnya gejala, tetapi virus polio dapat ditemukan dalam tinja dari 3 sampai 6 minggu.

 

PATOGENESIS

Virus polio masuk melalui mulut dan multiplikasi pertama kali terjadi pada tempat implantasi dalam farings dan traktus gastrointestinal. Virus tersebut umumnya ditemukan di daerah tenggorokan dan tinja sebelum timbulnya gejala. Satu minggu setelah timbulnya penyakit, virus terdapat dalam jumlah kecil ditenggorokan, tetapi virus terus menerus dikeluarkan bersama tinja dalam beberapa minggu. Virus menembus jaringan limfoid setempat, masuk dalam pembuluh darah kemudian masuk sistem syaraf pusat. Aplikasi virus polio dalam neuron motor komu anterior medula spinalis dan batang otak mengakibatkan kerusakan sel dan menyebabkan manifestasi poliomielitis yang spesifik.

 

GAMBARAN KLINIS

Masa inkubasi poliomielitis umumnya berlangsung 6-20 hari dengan kisaran 3-35 hari. Respons terhadap infeksi virus polio sangat bervariasi dan tingkatannya tergantung dari beratnya manifestasi klinisnya sekitar 95%. Semua infeksi polio yang tidak memberikan gejala disebut sub-klinis atau tanpa gejala. Menurut estimasi rasio penyakit yang tanpa gejala terhadap penyakit yang paralitik bervariasi dari 50 : 1 sampai 1000 : 1 (rata-rata 200 : 1). Pasien yang terkena infeksi tanpa gejala mengeluarkan virus bersama tinja dan dapat menularkan virus ke orang lain. Sekitar 4 – 8 % dari infeksi polio terdiri atas penyakit ringan yang non spesifik tanpa bukti klinis atau laboratorium dari invansi dalam sistem saraf pusat. Sindrom ini dikenal sebagai poliomielitis abortif dengan ciri khas penyembuhan sempurna dan berlangsung kurang dari seminggu.

 

Meningitis aseptis non paralitik

Ini terjadi pada 1-2 % dari infeksi polio, yang didahului oleh gejala prodomal penyakit ringan yang berlangsung beberapa hari. Anak iritabel, peka saraf meningkat; ada gejala kaku kuduk, kaku punggung dan kaki yang berlangsung antara 2 – 10 hari yang akan sembuh sempurna.

 

Paralisis flasid atau lumpuh layu

Lumpuh layu terjadi pada kurang dari 2 % semua infeksi polio. Gejala kelayuan umumnya mulai 1 – 10 hari setelah gejala prodomal dan berlangsung 2 – 3 hari. Pada umumnya tidak terjadi paralisis berikutnya setelah suhu kembali normal. Pada fase prodomal dapat terjadi bifasik terutama pada anak-anak dengan permulaan gejala ringan dipisahkan oleh periode 1-7 hari dari gejala utama (mayor symptoms). Gejala prodomal termasuk hilangnya reflek superfisial, permulaan meningkatnya reflek tendon dalam (deep tendon), rasa nyeri otot dan spasme pada anggota tubuh dan punggung. Penyakit berlanjut dengan paralisis flaksid disertai hilangnya refleks tendon dalam, keadaan ini menetap sampai beberapa minggu dan umumnya asimetris. Setelah fase ini lewat, kekuatan kembali, tidak ada gejala kehilangan sensoris atau perubahan kesadaran. Banyak anak dengan poliomielitis paralitik dapat sembuh dan sebagian besar fingsi otak kembali pada tingkat tertentu. Pasien dengan kelayuan 12 bulan setelah timbulnya penyakit pertama kali akan menderita dengan gejala sisa yang permanen.

Poliomielitis paralitik terbagi menjadi 3 kelompok :

1.      Polio spinal, yang paling sering terjadi (79%) dari kasus paralitik yang tercatat dari tahun 1969 – 1979 di Amerika Serikat. Terjadi paralisis asimetris yang sering pada tungkai bawah.

2.      Polio bulbar, tercatat sekita 2 % dari semua kasus paralitik mengakibatkan kelumpuhan otot-otot yang dilayani oleh syaraf kranial.

3.      Polio bulbospinal, tercatat 19 % dari kasus paralitik dan merupakan kombinasi antara paralisis bulbar dan spinal.

 

DIAGNOSIS LABORATORIUM

         Virus polio dapat diambil dari daerah faring atau tinja pada orang yang dicurigai terkena poliomielitis. Isolasi virus dari cairan serebrospinal sangat diagnostik, tetapi jarang dikerjakan.

         Bila virus dapat diisolasi dan seorang dengan paralisis flasid akut harus dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan cara oligucleotide mapping (finger printing) atau genomic sequencing. Untuk menentukan apakah virus tersebut termask virus liar atau virus vaksin.

         Dengan cara serologis yaitu mengukur zat anti yang menetralisasi (neutralizing antibody) yang muncul awal dan mungkin ditemukan meningkat tinggi pada saat pasien masuk RS oleh karena itu dapat terjadi kenaikan 4X tidak diketahui.

         Pemeriksaan cairan serebrospinal pada infeksi virus polio, umumnya terjadi kenaikan jumlah sel leukosit (10-200 sel/mm3, yang sebagian besar limposit) dan terjadi kenaikan kadar protein ringan dari 40 sampai 50 mg/100 ml).

 

VAKSIN

Vaksin Virus Polio Oral (oral Polio Vaccine = OPV)

         Vaksin virus polio hidup oral yang berisi virus polio tipe 1, 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Tiap dosis (2 tetes = 0,1 ml) mengandung virus tipe 1 : 10 6.0 CCID50’ tipe 2 : 10 5.0 CCID50 dan tipe 3 : 10 5.5 CCID50 dan eritromisin tidak lebih dari 2 mcg, serta kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.

         Vaksin yang digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral. Virus vaksin ini kemudian menempatkan diri diusus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun pada epitelium usus, yang menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian. Dengan cara ini, maka frekuensi polio virus liar dalam masyarakat dapat dikurangi.

         Vaksin akan menghambat infeksi virus liar yang serentak, maka sangat berbahaya untuk mengendalikan epidemi. Jenis vaksin virus polio ini dapat bertahan (beredar) ditinja sampai 6 minggu setelah pemberian OPV.

         Penerima vaksin ini dapat terlindungi setelah dosis tunggal pertama namun tiga dosis berikutnya akan memberi imunitas jangka lama terhadap tiga tipe virus polio.

         Vaksin polio oral harus disimpan tertutup pada suhu 2 – 8 0 C. 

         Vaksin sangat stabil namun sekali dibuka, vaksinakan kehilangan potensi disebabkan oleh perubahan pH setelah terpapar udara. Kebijakan Depkes dan Kesejahteraan Sosial menganjurkan bahwa vaksin polio yang telah terbuka botolnya pada akhir sesi imunisasi (pasca imunisasi massal) harus dibuang. Tetapi saat ini kebijakan WHO membolehkan botol-botol yang bersisi vaksin dosis ganda (multidose) digunakan pada sesi-sesi imunisasi, apabila tiga syarat dibawah ini terpenuhi :

1.    Tanggal kadaluarsa tidak terlampaui.

2.    Vaksin disimpan dalam rantai dingin yang benar (2 – 8 0 C)

3.    Botol vaksin yang telah terbuka yang terpakai hari itu telah dibuang.

         Vaksin polio oral dapat disimpan beku pada temperatur 20 0 C. vaksin yang beku dengan cepat dicairkan dengan cara ditempatkan antara telapak tangan dan digulir-gulirkan, dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai orange muda (sebagai indikator pH).

         Bila keadaan tersebut dapat terpenuhi, maka sisa vaksin yang telah terpakai dapat dibekukan lagi, kemudian dipakai lagi sampai warna berubah dengan catatan dan tanggal kadaluarsa harus selalu diperhatikan.

 

Vaksin Polio Inactivated (inactivated poliomyelitis vaccine = IPV)

         Vaksin polio inactivated yang berisi tipe 1, 2 dan 3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif denganformaldehid. Pada vaksin tersebut dijumpai dalam jumlah kecil selain formaldehid juga ada neomisin, streptomisin dan polimiksin B.

         Vaksin polio inactivated harus disimpan pada suhu 2 – 8 0 C dan tidak boleh dibekukan.

         Pemberian dengan dosis 0,5 ml dengan suntikan subkutan dalam 3x berturut-turut dengan jarak 2 bulan antara masing-masimh dosis akan memberikan imunitas jangka panjang (mukosal maupun humoral) terhadap tiga macam virus polio.

         Imunitas mukosal yang ditimbulkan oleh IPV lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh OPV.

 

REKOMENDASI

Imunisasi Primer Bayi dan Anak

         Vaksin polio oral diberikan padda BBL sebagai dosis awal, sesuai dengan PPI dan Program Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000. Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2 – 3 bulan yang diberikan 3 dosis terpisah berturut-turut dengan interval waktu 6 – 8 minggu. Satu dosis sebanyak 2 tetes (0,1 ml) diberikan per oral pada umur 2 – 3 bulan dapat diberikan bersama-sama waktunya dengan suntikan vaksin DPT dan Hep.B. Bila OPV yang diberikan dimuntahkan dalam waktu 10 menit, maka dosis tsb perlu diulang.

         Pemberian ASI tidak berpengaruh pada respons antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh ditunda karena hal ini. Anak-anak dengan imunosupresi dan kontak mereka yang dekat harus diimunisasi.

         Anak yang telah mendapat imunisasi OPV dapat memberikan ekskresi virus vaksin selama 6 minggu dan akan melakukan infeksi, pada kontak yang belum diimunisasi. Untuk mereka yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru saja diberi OPV supaya menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.

 

Vaksinasi terhadap orang tua yang anaknya divaksinasi

Anggota keluarga yang belum pernah divaksinasi atau belum lengkap vaksinasinya dan mendapat kontak dengan anak yang mendapat vaksinasi OPV, harus ditawarkan vaksinasi dasar OPV pada waktu bersamaan dengan anak tersebut. Dalam hal ini tidak boleh diberikan IPV, mengingat resiko infeksi yang didapat dari anak terjadi sebelum imunisasi terbentuk sebagai respons imun terhadap IPV.

Kepada orang dewasa yang telah mendapat imunisasi sebelumnya, tidak diperlukan vaksinasi penguat (booster). Interval minimal antara 2 dosis vaksinasi dapat diperpanjang dan dapat menyelesaikan vaksinasinya tanpa mengulang lagi.

 

Imunisasi penguat (booster)

Dosis penguat OPV harus diberikan sebelum masuk sekolah, yaitu bersamaan pada saat diberikan dosis DPT sebagai penguat. Dosis OPV berikutnya harus diberikan pada umur 15 – 19 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah.

 

Imunisasi untuk orang dewasa

Untuk orang dewasa, sebagai imunisasi primer (dasar) dianjurkan diberikan 3 dosis berturut-turut OPV 2 tetes dengan jarak 4 – 8 minggu. Semua orang dewasa seharusnya divaksinasi  terhadap poliomielitis dan tidak boleh ada yang tertinggal. Dosis penguat untuk  orang dewasa tidak diperlukan, kecuali mereka yang dalam resiko khusus, misalnya :

         Bepergian ke daerah endemis poliomielitis atau saat terjadi epidemi.

         Petugas-petugas kesehatan yang kemungkinan mendapat kontak dengan kasus polimielitis.

Bagi meraka yang secara terus menerus mengalami resiko infeksi, dianjurkan diberi dosis tunggal sebagai penguat 2 tetes setiap 10 tahun.

 

Vaksinasi untuk pasien imunokompromais

Untuk mereka yang mempunyai indikasi kontra terhadap vaksin hidup, misalnya mereka yang menderita supresi imun akibat sesuatu penyakit atau kemoterapi, maka IPV dapat digunakan sebagai vaksinasi terhadap poliomielitis. Vaksin IPV juga dipakai untuk saudara-saudara anak imunokompromais dan anggota keluarga yang mendapat kontak. Sebagai vaksinasi dasar, diberikan suntikanIPV 3 dosis masing-masing 0,5 ml, subkutan dalam atau intramuskular dengan interval 2 bulan. Dosis penguat harus diberikan dengan jadwal sama seperti pemberian OPV. Anak dengan HIV positif dan anggota keluarga serumah yang mendapat kontak harus menerima IPV.

 

KIPI

Kasus poliomielitis yang berkaitan dengan vaksin telah dilaporkan terjadi pada resipien atau kontak. Diperkirakan terdapat 1 kasus poliomielitis paralitik yang berkaitan dengan vaksin pada setiap 2,5 juta dosis OPV yang diberikan. Resiko yang paling sering terjadi pada pemberian dosis pertama dibandingkan dengan dosis berikutnya. Resiko yang relatif kecil yang ditimbulkan pada pemberian OPV ini tidak boleh diremehkan; namun tidak cukup menjadi alasan untuk mengadakan perubahan terhadap kebijakan imunisasi, karena vaksinasi polio terbukti sangat berguna. Harus ditekankan bahwa kebersihan terhadap kontak penerima vaksin yang baru adalah sangat penting.

Setelah vaksinasi sebagian kecil resipien mengalami gejala-gejala pusing, diare ringan dan sakit pada otot. Seperti KIPI imunisasi yang lain, semua gejala yang timbul setelah vaksinasi harus dilaporkan pada Dinkes setempat.

 

Kontraindikasi

Kontraindikasi pemberian OPV adalah :

         Penyakit akut atau demam (temperatur > 38,5 0 C) imunisasi harus ditunda.

         Muntah atau diare, imunisasi ditunda.

         Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau Imunosupresif oral maupun suntikan juga pengobatan radiasi umum (termasuk kontak pasien).

         Keganasan (untuk pasien dan kontak) yang berhubungan dengan sistem retikuloendotelial (seperti limfoma, leukimia dan penyakit hodgkin) dan anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu, misalnya pada hipo-gamaglobulinemia.

         Menderita infeksi HIV atau anggota keluarga sebagai kontak.

         Kejadian ikutan pada fetus belum pernah dilaporkan, namun OPV jangan diberikan pada ibu hamil 4 bulan pertama kecuali terdapat alasan mendesak, misalnya bepergian ke daerah endemis poliomielitis.

         Vaksin polio oral dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin inactivated dan virus hidup lainnya (sesuai dengan indikasi) tetapi jangan bersama vaksin tifoid oral.

         Bila BCG diberikan pada bayi, tidak perlu memperlambat pemberian OPV, karena OPV memacu imunitas lokal dan pembentukan antibodi dengan cara replikasi dalam usus.

         Vaksin polio oral dan IPV didalamnya mengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin, polimisin, streptomisin) namun hal ini tidak merupakan kontra indikasi, kecuali pada anak yang mempunyai bakat hipersensitif yang berlebihan.

         Kepada saudara atau anggota keluarga kontak dari anak yang menderita imunosupresi jangan diberikan OPV tapi diberi IPV.

 

CAMPAK

Penyakit campak sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan diseluruh wilayah Indonesia.

Upaya imunisasi campak telah dilaksanakan oleh Depkes dan Kesos R.I sudah mencakup lebih dari 80%, tetapi daerah-daerah terpencil cakupan tersebut secara keseluruhan belum tercapai. Oleh karena itu, kejadian luar biasa penyakit campak masih sering dijumpai di daerah-daerah tertentu. Bahkan pada akhir-akhir ini dengan adanya situasi krisis dan perpindahan penduduk yang cepat dari tempat yang kurang aman ke tempat yang aman menyebabkan terjadinya penularan penyakit campak yang tidak dapat dihindari.

 

PATOGENESIS

Virus masuk melalui saluran pernafasan secar droplet dan selanjutnya masuk kelenjar getah bening yang berada dibawah mukosa, disini virus memperbanyak diri kemudian menyebar ke sel-sel jaringan limforetikular seperti limpa. Sel mononuclear yang terinfeksi membentuk sel berinti raksasa yang disebut sel Warthin, sedangkan sel T limfosit meliputi klas penekan dan penolong yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah. Pada saat 5-6 hari sesudah infeksi awal, focus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran pernafasan, kulit, kandung seni dan saluran usus dan selanjutnya pada hari ke-9 – 10 fokus infeksi yang berada di epitel saluran nafas. Pada saat itu muncul gejala coriza (pilek) disertai dengan peradangan selaput konjungtiva yang tampak merah. Pasien tampak lemah disertai suhu tubuh yang meningkat, selanjutnya pasien tampak sakit berat sampai munculnya ruam kulit. Pada hari ke-11 tampak pada mukosa pipi suatu ulcera kecil (bintik koplik) merupakan tempat virus tumbuh selanjutnya mati dan kelainan ini merupakan tanda pasti untuk menegakkan diagnosa. Akhirnya muncul ruam makulopapular di hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat dideteksi dan selanjutnya suhu tubuh menurun.

 

DIAGNOSIS

Diagnosis kasus campak biasanya dapat dibuat atas dasar kelompok gejala klinik yang saling berkaitan, yaitu coriza dan mata meradang disertai batuk dan demam yang tinggi dalam beberapa hari dan diikuti timbulnya ruam makulopapular pada kulit yang memiliki cirri khas, diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh. Pada stadium prodomal dapat ditemukan enanthem di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonis penyakit campak yaitu bercak koplik. Pada saat penyembuhan, ruam merah menghitam dan selanjutnya mengelupas.

VAKSIN

Pada tahun 1963, telah dibuat 2 jenis vaksin campak yaitu :

  1. Vaksin yang terbuat dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonston B)
  2. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminium).

 

DOSIS DAN CARA PEMBERIAN

Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1000 TCID50 atau sebanyak 0,5 ml. Untuk vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID50 saja mungkin sudah dapat memberikan hasil yang baik. Pemberian yang idanjurkan secara subcutan walaupun demikian dapat diberikan secara intramuskular. Daya proteksi vaksin campak diukur dengan berbagai cara. Salah satu indicator pengaruh vaksin terhadap proteksi adalah penurunan angka kejadian kasus campak sesudah pelaksanaan program imunisasi.

Pada saat ini di negara yang sedang berkembang, angka kejadian campak masih tinggi dan sering kali dijumpai penyulit. Maka WHO menganjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi berumur 9 bulan. Untuk negara maju imunisasi campak (MMR) dianjurkan pada anak berumur 12 – 15 bulan.

 

REAKSI KIPI

Reaksi KIPI campak yang banyak dijumpai terjadi pada imunisasi ulang pada seseorang yang telah memiliki imunitas sebigian akibat imunisasi dengan vaksin campak dari virus yang dimatikan. Kejadian KIPI campak telah menurun dengan digunakannya vaksin campak yang dilemahkan. Gejala KIPI berupa demam yang lebih daro 39,50 C yang terjadi pada 5 – 15 % kasus., demam mulai dijumpai pada hari ke-5 dan 6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. Berbeda dengan infeksi alami demam tidak tinggi, walaupun demikian peningkatan suhu tubuh tersebut dapat merangsang terjadinya kejang demam.

Ruam dapat dijumpai pada 5 % resipien, timbul pada hari ke-7 dan 10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari. Hal ini sukar dibedakan dengan modified measles akibat imunisasi yang terjadi jika seseorang telah memperoleh imunisasi pada saat masa inkubasi penyakit alami. Reaksi KIPI berat jika ditemukan gangguan fungsi system saraf pusat seperti ensefalitis dan ensefalopati pasca imunisasi. Landrigan dan Wittle memperkirakan resiko terjadinya kedua efek samping tersebut selama 30 hari sesudah imunisasi sebanyak 1 diantara 1 milyar dosis vaksin (tahun 1963-1971)

 

IMUNISASI ULANG

Penelitian di Yogyakarta, Ambon, dan Palu oleh Badan Lingkes Depkes dan Kesos mengenai kadar IgG pada 200 anak sekolah per propinsi pada tahun 1998; menunjukkan status antibody campak hanya mencapai 71,9% sehingga pada umur 6-11 tahun jumlah yang rentan pada infeksi campak cukup tinggi yaitu 26-32,6%. Atas dasar penelitian tsb ulang imunisasi campak diberikan pada usia masuk sekolah (umur 6-7 tahun) melalui program BIAS.

Imunisasi Ulang dianjurkan dalam situasi tertentu, misalkan:

  1. Mereka yang memperoleh imunisasi sebelum umur 1 tahun dan terbukti bahwa potensi vaksin yang digunakan kurang baik (tempak peningkatan insidens kegagalan vaksinasi). Pada anak-anak yang memperoleh imunisasi ketika berumur 12-14 bulan tidak disarankan mengulangi imunisasinya tetapi hal ini bukan merupakan kontra indikasi.
  2. Apabila terdapat kejadian luar biasa peningkatan kasus campak, maka anak SD, SMP dan SMA dapat diberikan imunisasi ulang.
  3. Setiap orang yang pernah imunisasi vaksin campak yang virusnya sudah dimatikan (vaksin inaktif).
  4. Setiap orang yang pernah memperoleh imunoglobulin.
  5. Seorang yang tidak dapat menunjukkan catatan imunisasinya.

 

KONTRA INDIKASI

Indikasi kontra imunisasi campak berlaku bagi mereka yang sedang menderita demam tinggi, sedang memperoleh pengobatan imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah.

 

 

 

 

“BEKERJALAH DENGAN HATI “

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HANDOUT

VAKSIN PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI (PPI)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BY. TRIANA SEPTIANTI P, S.SiT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AKADEMI KEBIDANAN GIRI SATRIA HUSADA

WONOGIRI

2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: